“di tengah hutan bolong”

halaman ini sengaja dibuat sebagai tempat me-nari-nya jari-jari ini dalam menuangkan pandangan pribadi saya terhadap aspek/kondisi di kota kecil ditengah hutan bolong pulau kalimantan yang bernama Pangkalan Bun.

1. Aspek Sosial Budaya
Pangkalan Bun adalah kota di Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. Penduduk asli kota Pangkalan Bun adalah suku dayak dan melayu, sedangkan sebagian besar penduduk adalah pendatang dari berbagai daerah baik dari Banjarmasin, Madura, Jawa, dan lain sebagainya.

Daerah yang dipadati oleh pendatang dari berbagai macam daerah ini tentu sangat mempengaruhi kondisi sosial dan budaya mulai dari etika pergaulan, pembangunan, moril hingga agama. Kondisi sosial dan budaya yang beragam ini cenderung tidak memperhatikan nilai-nilai agama bahkan berusaha menyingkirkan nilai-nilai agama dari kehidupan sehari-hari.

Adapun kondisi sosial dan budaya masyarakat yang cenderung tidak sesuai dengan nilai-nilai islam walaupun masih ada beberapa yang mengindahkan antara lain adalah:

– Masih banyak yang percaya dengan dukun atau “orang pintar” untuk tujuan pengobatan
– Masih tinggi kepercayaan masyarakat terhadap budaya yang diwarisi oleh orang-orang dahulu mereka, misalnya:
– Mudah dan cepatnya menerima budaya asing sebagai trend masa kini
– Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pakaian yang menutup aurat
– Banyaknya firqah atau kelompok-kelompok dengan pemahaman sendiri-sendiri

Sehingga diperlukannya upaya keras untuk mengembalikan akidah ummat kepada sumbernya yang murni dan benar.

2. Aspek Pendidikan
Pendidikan merupakan hak yang harus diterima oleh segenap lapisan masyarakat. Namun hal itu bak fatamorgana bagi beberapa kalangan, khususnya bagi kalangan menengah kebawah. Tujuan pendidikan yang luhur dalam membina pemahaman, karakter dan ketrampilan masyarakat akhir-akhir ini telah bergeser menjadi sebuah ajang bisnis yang menggiurkan. Setiap berganti tahun ajaran selalu diiringi dengan peningkatan biaya pendidikan. Dampaknya banyak Orang tua yang tidak dapat meneruskan sekolah anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi anak yatim, tidak mempunyai ayah yang bertindak sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, harapan untuk tetap bersekolah sangat kecil. Biaya yang demikian tinggi membuat kebanyakan dari mereka harus memeras keringat dan membanting tulang. Jangankan sekolah, terkadang untuk sesuap nasipun harus mereka dapatkan dengan kerja keras.

Kita belajar dari kehidupan masyarakat di kota besar yang bahkan ada diantara mereka harus turun kejalan mencari sesuap nasi dengan cara tidak halal. Akrab dengan kriminalitas, kekerasan dan pelecehan. Bergumul mesra dengan berbagai jenis kemaksiatan. Dan begitu banyak hal yang apabila kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ucapan Istighfar akan senantiasa meluncur dari lisan.

Belum adanya lembaga pendidikan di Pangkalan Bun yang berfokus untuk mengembangkan potensi dan perkembangan anak dengan landasan tauhid yang lurus dan ahlak yang mulia sebagaimana yang dicontohkan Rasulallah Shallallahu’alaihi wasallam dan di praktekkan oleh para sahabatnya.

3. Aspek Perekonomian
Secara umum perekonomian Indonesia masih dilanda krisis ekonomi berkepanjangan dan tentu saja mempengaruhi perekonomian semua lapisan daerah di negara ini, termasuk daerah Pangkalan Bun. Lumpuhnya sejumlah besar mata pencaharian masyarakat seperti habisnya bahan baku seperti kayu di hutan yang merupakan faktor besar sebagai penunjang perekonomian daerah membawa pengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat, terutama bagi penduduk asli meski tidak menutup mata terhadap sejumlah penduduk asli yang berekonomi menengah keatas kebanyakan berprofesi sebagai pedagang dan pegawai negeri.

Terlebih bagi masyarakat yang kurang memiliki kreativitas dan kemampuan untuk mencari mata pencaharian sehingga sulit bersaing dengan warga pendatang. Sebaliknya bagi sebagian warga pendatang yang mempunyai kemampuan dalam berusaha, rata-rata memiliki perekonomian menengah ke atas terutama bagi kalangan pengusaha, pedagang, kontraktor, serta pegawai pemerintahan.

Namun bila ditinjau secara umum daerah Pangkalan Bun rata-rata perekonomian masyarakatnya masih tergolong cukup, dapat dilihat dari kurangnya tingkat pengangguran, pengamen dan pengemis jalanan yang masih relatif sedikit, begitu pula harga barang-barang kebutuhan pokok meski cukup tinggi bila di bandingkan dengan harga di pulau Jawa tetapi masih dapat terjangkau oleh masyarakat.

4. Kondisi Keagamaan
Pangkalan Bun merupakan daerah yang memiliki penduduk berjiwa hormat dan kerukunan dalam beragama terlihat dalam kehidupan mereka. Tetapi daerah yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini dalam praktek kehidupan sehari-hari masih jauh dari ajaran agama yang murni, disebabkan antara lain karena mengkonsumsi media hiburan secara berlebihan sehingga mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang dianggap trend yang tidak sesuai dengan norma islam, lalai dalam ibadah dan lengah dalam hal pendidikan agama anak.

Di beberapa tempat ada sejumlah penyeru agama dan da’i yang berusaha mengajarkan dan menanamkan ajaran-ajaran Islam yang berorientasi kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi yang amat disayangkan dalam memahami kedua sumber Islam tersebut tidak rujuk/kembali kepada pemahaman para Sahabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in (Salafus Shalih) bahkan terkesan mengada-ada dan menjerumuskan umat kedalam pemahaman yang keliru dalam hal Aqidah dan Manhaj.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: