berkenalan dengan manhaj salaf

apa pengertian (definisi) Salaf ?

Salaf secara bahasa maknanya ialah pendahulu dalam artian generasi yang terdahulu atau lebih dulu dari generasi yang sedang hidup. Maka dalam pengertian bahasa, Salaf itu adalah episode sejarah yang telah berlalu.

Adapun pengertian Salaf dalam kancah pemahaman Islam adalah ringkasan dari kata “As-Salafus Shalih” yang maknanya ialah generasi pendahulu kita yang shalih atau dengan kata lain generasi pendahulu kita yang menjadi teladan pemahaman dan pengamalan Islam secara kaaffah (menyeluruh, red). Dalam perspektif ini Salaf artinya ialah generasi terbaik termulia bagi umat Islam. Generasi yang dimaksud disini dalam sejarah Islam adalah generasi para Shahabat Nabi ridwanullaah ‘alaihim ‘ajma’iin dan para Tabi’in serta Tabi’it Tabi’in.

Siapa yang di maksud dengan generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in?

Generasi Shahabat Nabi itu adalah generasi yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan beriman kepada beliau serta mati di atas Islam. Dalam pengertian ini, tidak dianggap generasi Shahabat Nabi kalangan munafiqin yang berbuat kemunafikan di zaman Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam meskipun mereka mengaku secara lisan bahwa mereka telah beriman kepadanya, atau bahkan mereka sholat lima waktu di belakang beliau sebagai ma’mum dan bahkan berjihad di medan perang bersama beliau. Namun orang yang demikian ini tidak di anggap Shahabat Nabi karena mereka hanya menampilkan keimanan secara dzohir dan menyembunyikan kekafiran didalam bathinnya.

Para Tabi’in adalah adalah generasi kedua dalam sejarah Islam dimana mereka ini telah belajar tentang Islam dari para Shahabat Nabi dan beriman kepadanya serta mati di atas Islam. Namun ketika mereka menginjak usia baligh Nabi telah wafat meninggalkan dunia ini sehingga mereka tidak sempat mendapatkan ilmu secara langsung dari Nabi. Dan mereka berkesempatan menimba ilmu dari para Shahabat Nabi yang masih hidup

Adapun Generasi Tabi’it Tabi’in adalah generasi ketiga dari sejarah umat Islam dimana mereka tidak sempat bertemu dengan para Shahabat Nabi oleh karena para Shahabat Nabi itu telah wafat. Namun mereka berkesempatan menimba ilmu dari para Tabi’in serta beriman kepada ilmu yang sampai kepada mereka dari para Tabi’in itu dan beramal dengannya serta mati di atas Islam.

Dalam konteks pengertian Tabi’in dan Tabi’it Taabi’in sebagaimana di jelaskan di atas, ahlul bid’ah tidaklah termasuk kalangan Tabi’in dan tidak pula termasuk Tabi’it Taabi’in meskipun mereka bertemu para Shahabat Nabi serta mengambil ilmu dari padanya. Namun mereka tidak beriman kepada ilmu itu dan tidak beramal dengannya.

Contohnya : seperti tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ Al Yahudi. Dia ini semula adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman kemudian pura-pura masuk Islam di zaman pemerintahan sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu setelah itu dia mengkampanyekan pemahaman ekstrim tentang keharusan mencintai Ahlul Bait. Sehingga dia membikin pemahaman sesat yang menyatakan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam sepantasnya yang mendapatkan wasiat beliau untuk memegang tampuk pemerintahan adalah Ali bin Abi Thalib.

Namun hak Ali ini telah di dzalimi oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq dan para Shahabat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah pemahaman yang sesat dan menyesatkan (bid’ah). Tokoh yang seperti ini tidaklah masuk dalam kategori Tabi’in meskipun bertemu para Shahabat Nabi dan mengambil ilmu dari mereka. Namun dia tidak beriman kepada ilmu itu dan terjerumus dalam berbagai kebid’ahan (kesesatan).

apakah ada rekomendasi secara khusus dari Allah dan RasulNya tentang ketiga generasi tersebut, sehingga kita mempunyai kepastian rujukan dalam metodologi pemikiran ilmu-ilmu agama ?

telah kita dapati rekomendasi dan bahkan perintah dari Allah dan RasulNya untuk kita merujukkan pemahaman kita tentang Islam kepada tiga generasi tersebut. Rekomendasi dan perintah Allah serta RasulNya itu terdapat didalam Al Qur’an dan As Sunnah sebagai berikut ini :

Dalam surat Al-Fath ayat 29 Allah berfirman :

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang beriman besertanya adalah orang-orang yang keras terhadap orang-orang kafir, namun penuh kasih sayang terhadap sesama mereka kaum mukminin, engkau melihat mereka itu ruku’ dan sujud karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhoaanNya. Tampak pada wajah mereka bekas sujud demikianlah permisalan mereka itu didalam taurat dan demikian pula tentang mereka didalam injil. keadaan mereka seperti tanaman yang bersemi kemudian semakin tumbuh menguat sehingga tambah kokohlah batang-batangnya sehingga dia menjadi besar berdiri kokoh diatas pokoknya, keadaan pertumbuhan mereka yang demikian itu menakjubkan pihak yang menanam pohon itu agar Allah menjadikan orang-orang kafir jengkel dengan kekuatan yang Allah berikan kepada Muhammad dan para Shahabatnya itu, Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholih pada mereka itu ampunan dan pahala yang besar”.

Demikian Allah memuji para Shahabat Nabi dalam Al-Qur’an, dan masih banyak lagi pujian Allah dalam banyak ayat-ayat lainnya didalam Al-Qur’an. Adapun perintah dari Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk kita merujuk kepada mereka dalam memahami Al-Quran dan Al-Hadits adalah sebagaimana sabda beliau yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dalam shohih keduanya serta Ashabus-Sunan, bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Maka sesungguhnya siapa yang masih hidup sepeninggal aku, sungguh dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Al Khulafaur-Rasyidin Al Mahdiyyin, gigitlah ia dengan gigi gerahammu.”

Berpegang dengan Sunnah khulafaur-Rasyidin Al Mahdiyin makna ialah wajib berpegang dengan penafsiran terhadap Al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan oleh penguasa-penguasa yang terbimbing dengan syari’at Allah dan mendapatkan petunjukNya sepeninggal Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Penguasa-penguasa itu dinamakan Khilafatun-Nubuwwah (penguasa yang diberitakan oleh Nabi dimana mereka akan tampil sebagai penguasa sepeninggal beliau). Mereka ini masa kekuasaannya tiga puluh tahun sepeninggal beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud As-Sijistaani dalam sunannya, bahwa Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari :

“khilafatunnubuwah sepeninggalku adalah tiga puluh tahun”.

Safinah yang meriwayatkan sabda Nabi ini menghitung masa kekuasaan yang tampil sepeninggal Nabi yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq yang tampil sebagai penguasa sepeninggal Nabi dan beliau memerintah selama dua tahun. Umar Bin Khoththob yang tampil sebagai penguasa sepeninggal Abu Bakr dan memegang kekuasaan selama sepuluh tahun, Utsman bin Affan yang tampil sebagai penguasa sepeninggal umar dan memegang kekuasaan selama dua belas tahun, Ali bin Abi Thalib yang tampil sebagai penguasa sepeninggal Utsman dan memegang kekuasaan selama enam tahun. Maka jumlah masa kekuasaan mereka berempat adalah tiga puluh tahun persis seperti yang di beritakan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kepada kita untuk menempuh jalan selamat dari berbagai fitnah perselisihan yang terjadi diantara umat Islam adalah dengan merujuk kepada penafsiran Al-Qur’an dan As Sunnah dari para Khulafaurrasyidin tersebut. Dan kita disuruh menggigit penafsiran beliau-beliau itu dengan gigi geraham kita. maknanya ialah kita di suruh untuk berpegang kuat-kuat dengan pemahaman beliau-beliau agar jangan sampai terlepas daripadanya.

Juga Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberitakan bahwa akan terjadi perpecahan di umatnya sampai tujuh puluh tiga golongan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah bersabda : (tulis haditsnya)

“Orang-orang Yahudi telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Orang-orang Nashoro telah berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat. Para Shahabat bertanya : “Siapakah satu golongan yang selamat itu”. Rasulullah menjawab yaitu : mereka yang menempuh jalan hidupku dan jalan hidup para Shahabatku”. (HR. Tirimidzi dalam Sunannya)

Dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh kita untuk menempuh jalan keselamatan dari fitnah perpecahan dikalangan umat Islam dengan merujukkan pemahaman kita terhadap agama Islam ini kepada pemahaman para Shahabat beliau.

Adapun Rekomendasi Allah dan RasulNya kepada Tabi’in dan kepada para Tabi’it taabi’in adalah antara lain dalam surat Al Hasyr ayat ke sepuluh :

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka para Shahabat itu, mereka selalu memanjatkan doa kepada Allah dengan menyatakan “wahai Tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami meninggal dunia dengan iman dan jangan engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha penyayang dan Maha pemberi rahmat”.

Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang se-Generasi dengan aku (yakni para Shahabat beliau). Kemudian Generasi sesudah itu (para Tabi’in). Kemudian Generasi setelahnya lagi (yaitu Generasi Ta’bi’it Tabi’in). (HR. Tirmidzi dalam Sunannya)

Dalam hadits ini Rasulullah menegaskan tiga Generasi pertama itu umat Islam dari umat beliau adalah para Shahabat beliau, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. mereka adalah sebaik-baik umat karena mereka memahami Al-Quran dan Al Hadits dengan benar serta mengamalkannya dengan tepat.

Para Shahabat Nabi dan generasi sesudahnya sebagai sebaik-baik ummat dalam interpretasinya terhadap nash, apakah perkataan dan perbuatan mereka juga di kategorikan hujjah yakni termasuk dalil dalam agama?

Dalil agama itu didalam Islam hanyalah Al Qur’an dan Al-Hadits adapun selain Al-Qur’an dan Al Hadits bisa salah dan bisa benar, termasuk perkataan para Khulafaurrasyidin dan para Shahabat Nabi juga bisa salah dan bisa benar. Yang benar yang mencocoki Al Qur’an dan As Sunnah dan yang salah adalah yang menyelisihi keduanya. Namun, kita telah mendapatkan kepastian dari Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau :

“Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan”. (Al-Baihaqi dalam sunannya)

Maka dengan hadits ini, telah pasti bahwa bila para Shahabat Nabi itu atau para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in berbuat salah dalam memahami dan menafsirkan agama, pasti akan tampil orang-orang dari kalangan mereka membantah kesalahan itu dan meluruskannya kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak mungkin ada satu kesalahan pun dari mereka kecuali kita dapati bantahannya dari kalangan mereka juga. Contohnya : ketika Umar bin Al-Khoththob sebagai salah seorang khulafaurrasyidin yang melarang adanya Haji Tamattu’ dan memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan Haji Ifrad, larangan beliau ini dibantah oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Hudzaifah bin Al-Yaman, dan Ibnu Mas’ud. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat mengutamakan Haji Tamattu’.

Ketika Utsman bin Affan melakukan sholat Dzuhur dan Ashar di Mina dalam rangkaian manasik haji beliau melakukannya dengan empat raka’at masing-masing nya dan tidak meng-qoshornya, beliau sebagai salah seorang khulafaurrasyidin namun tindakan beliau demikian di tentang oleh Abdulllah bin Mas’ud dan para Shahabat yang lainnya. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam meng-qoshor sholat Dzuhur, Ashar dan Isya’ di Mina.

Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu menghukum Abdullah bin Saba ‘ dan pengikutnya dengan hukuman bakar hidup-hidup, hukuman ini di tentang oleh Abdullah bin Abbas karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang kita menghukum dengan membakar hidup-hidup.

Ketika Marwan bin Hakam sebagai gurbernur kota Madinah dalam masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu, menjalankan sholat ‘Ied dengan mengeluarkan mimbar dilapangan dan mendahulukan khutbah sebelum sholat, hal ini ditentang keras oleh Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallahu’anhuma di depan umum karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengeluarkan mimbar ke lapangan dalam sholat ‘Ied dan mendahulukan sholat sebelum khutbah. Marwan bin Hakam adalah salah seorang Imam dari kalangan Tabi’in.

Ketika Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa Nikah Mut’ah itu halal dan tidak diharamkan sampai hari kiamat. Pendapat ini di tentang keras oleh Umar bin Al-Khoththob radhiyallahu ‘anhu dan bahkan beliau mengancam kalau mereka menjalani nikah mut’ah akan di hukum rajam sebagai pezina yang telah berstatus pernah menikah. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengharamkan nikah mut’ah dengan tegas sampai hari kiamat. Nikah Mut’ah itu ialah nikah yang dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang dilafadzkan dalam Ijab-Qabul pernikahannya dengan masa tertentu (hari, pekan, bulan, atau tahun, red) berlakunya dan berlangsung ikatan pernikahan tersebut. Dan bila habis masa yang disebutkan dalam Ijab-Qobul itu maka ikatan pernikahan itu pun akan terputus secara otomatis. Nikah yang demikian telah di haramkan oleh Nabi ketika perang Khaibar dan ketika Fat-hu Makkah serta ketika Hajjatul Wada’.

Masih banyak contoh lagi kasus-kasus fatwa yang menyelishi Al-Qur’an dan As Sunnah yang segera di tentang di zaman Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Maka yang mengatakan salahnya fatwa seorang Shahabat atau Tabi’in dan Tabi’it Tab’in, bukanlah kita di generasi ini. Akan tetapi yang menyatakan dan menilai kesalahan itu adalah orang-orang yang hidup di zaman generasi mereka dan tentunya memiliki ilmu yang selevel dengan mereka. Sehingga kita dengan tenang dapat melaksanakan perintah Nabi untuk merujukkan pemahaman kita terhadap agama ini kepada pemahaman tiga generasi utama itu, selama tidak ada riwayat penentangan terhadap penafsiran tersebut.

Sumber : http://alghuroba.org/index.php?read=48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: