PARTAI ISLAM, ADAKAH DALAM AJARAN ISLAM ?

27 Desember, 2008 at 12:49 am (Islam) (, , , , , )

Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan kaum muslimin agar selalu bersatu dan bekerja sama dalam kebaikan dan taqwa, juga Allah melarang segala jenis perpecahan dan penyelewengan dari jalan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. (QS. 3:103).

Dalam ayat lain Allah berfirman :

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas pada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. 3:105).


Dan Allah juga berfirman :

Tegakkan agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.(QS. 42: 13).

Allah Subhanahu wata’ala menghendaki agar seluruh kaum muslimin berada dalam satu barisan, yaitu barisan Allah yang selalu mendapatkan keberuntungan dan kemenangan:

Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.(QS. 58: 22).

Merupakan rahmat Allah yang agung kepada umat Islam bahwasanya Allah tidak menghancurkan umat ini dengan sebab musuh dari luar mereka, meskipun seluruh penduduk di muka bumi bersatu padu untuk menghancurkan umat ini. Tetapi tatkala terjadi perpecahan di dalam tubuh umat ini, itulah saat kehancuran umat ini (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya).
Maka muncullah Kelompok atau golongan atau partai-partai (hizbiyah) yang memecah belah umat Islam. Ini merupakan tanda dicabutnya rahmat Allah dari mereka dan sekaligus  tanda datangnya adzab yang menghancurkan mereka, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :
Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah melainkan Allah akan menimpakan permusuhan diantara mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 4019, al-Hakim dalam Mustadrak 4/540, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh al-Bani dalam Silsilah Shahihah 106).
Sejarah telah membuktikan begitu pedihnya musibah yang dialami oleh kaum muslimin dengan sebab penyakit berkelompok atau berpartai-partai. Sejak munculnya kelompok Khawarij yang menyulut fitnah perpecahan di dalam tubuh kaum muslimin sehingga mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin sejak zaman khalifah Utsman bin Affan hingga detik ini.
Keadaan semakin runyam di saat kaum muslimin mengadopsi sistem kepartaian dan demokrasi barat ciptaan  Yahudi dan Nasrani yang merupakan musuh besar Islam yang kemudian dimodifikasi menjadi “partai Islam” atau “demokrasi Islam” oleh da’i-da’i partai yang menginginkan kekuasaan. Mari kita tanyakan kepada mereka yang berdalih “memperjuangkan Islam lewat partai”, apakah Islam akan tegak berjaya dengan mencampur adukkan antara sistem yahudi yang batil dengan ajaran Islam yang berasal dari Allah ?, apakah dengan memberi label Islam dibelakang partai dan demokrasi lantas akan menjadi halal ? demi Allah sekali-kali tidak bisa disatukan keduanya dalam satu wadah. Karena antara haq dan yang batil tidak akan pernah bersatu selama-lamanya. Sebagaimana Allah berfirman :

Dan janganlah kamu campur adukkan antara yang haq dan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui. (QS.2: 42)

Lihatlah partai-partai Islam yang ada, apakah mereka bisa bersatu dalam kenyataannya ? tentu saja tidak akan pernah bisa bersatu, karena Yahudi menciptakan sistem kepartaian tujuan utamanya adalah untuk memecah belah umat Islam agar kekuatan umat Islam lemah, yang terjadi justru sebaliknya mereka saling berseteru. Partai-partai Islam ini memiliki nama-nama, julukan-julukan, metode-metode, dan simbol-simbol yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Setiap anggota partai memberikan loyalitas mutlak kepada setiap orang yang loyal kepada partai mereka, disisi lain mereka menjauh bahkan memusuhi setiap orang  yang menyelisihi partai mereka dan tidak bernaung di bawah panji-panji mereka. Dengan tabiat yang jauh dari nilai-nilai Islam mereka dengan bangganya memuji-muji bahwa partai merekalah yang bersih dan peduli kepada umat, mereka lupa bahwa Allah telah melarang setiap hambanya untuk memuji secara berlebihan kepada diri sendiri, apalagi tidak terbukti,  sebagaimana firman-Nya:

Maka janganlah kalian sucikan  diri kalian sendiri, sesungguhnya Dia mengetahui siapa yang lebih bertaqwa (QS.53: 32).

Pemujian secara berlebihan ini tidak lain dimaksudkan untuk mencari kemuliaan dan simpati manusia agar bisa menduduki jabatan dan kekuasaan, padahal kita mengetahui bahwa Nabi kita yang mulia Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ketika ditawari oleh pemuka-pemuka kafir Quraisy jabatan, harta, wanita dan kekuasaan, beliau menolak dengan keras karena disana tidak ada kebaikan sedikitpun untuk menolong tegaknya agama Allah di muka bumi ini.
Seandainya salah satu dari partai-partai Islam ini menang dalam pemilu, apakah mereka akan memberlakukan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar dan pedoman hidup yang paling sempurna yang telah dipilihkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita sebagai umatnya ?, ternyata tidak.
Jadi sangat jelas bagi kita bahwa partai yang berlabel “islam” tidak menjadikan politik sebagai wasilah (sarana), tetapi tujuan mereka adalah kepentingan pribadi atau kelompok. Kalaupun benar bahwa partai hanya sebagai sarana, berarti mereka tidak yakin dengan kabar yang diberitakan Allah dalam Al-Qur-an :

Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhoi Islam menjadi agamamu (QS.5:3)

kenapa harus mengambil sistem kafir untuk berdakwah? Mungkinkah akan terwujud? bukankah di dalam ajaran Islam ada berbagai macam sarana yang halal dan syar’i untuk mendakwahkan agama Allah?. Inilah pembodohan terhadap umat, yang umat menyangka bahwa yang diperjuangkan adalah ajaran Islam yang mulia, tapi semuanya tidak lebih hanya untuk mengelabui umat agar memilih partai mereka. Disini kita bisa melihat watak yahudi yang sadar tidak sadar diterapkan oleh da’i-da’i partai,  sangat kotor dan licik.
Itu sebabnya jauh  15 abad yang lalu, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam masih hidup beliau telah memperingatkan kita akan bahayanya da’i-da’i  yang berperangai buruk dan memperturutkan hawa nafsu, sebagaimana yang beliau sabdakan melalui sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiallahu anhu, beliau berkata:
Ya Rasulullah apakah setelah kebaikan ada keburukan lagi ? Rasulullah menjawab : Ya, mereka adalah para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang menerima dakwah mereka, niscaya mereka menjerumuskanmu ke dalam neraka. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah beritahukanlah kami sifat-sifat mereka ?! Rasulullah menjawab: Mereka dari kaum kita (muslim juga) dan berbicara dengan bahasa kita (pandai dalam mengucapkan bahasa Arab dan pandai memelintir dan menyelewengkan  ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits untuk kepentingan dunia). Maka hindarilah mereka kelompok-kelompok (hizbiyah) tersebut walaupun dengan menggigit pokok pohon (tetap teguh berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah) hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Begitu kronisnya penyakit hizbiyah ini, sehingga nampaklah bagi kita pentingnya terapi terhadap penyakit hizbiyah, yaitu dengan menempuh solusi yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di saat muncul problem hizbiyah: Siapa yang hidup lama dari kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku (Hadits shahih Riwayat Ahmad dan yang lainnya).
Rasulullah memerintahkan setiap muslim agar menjauhi segala macam bentuk hizbiyah dan menempuh jalan yang beliau tempuh dan para Sahabatnya, inilah jalan yang ditempuh oleh Salafush Shalih ( orang-orang yang mendahului kita dari sisi  keutamaan, ilmu, kebaikan dan amal shalih) dari masa ke masa,. Mereka sangat membenci hizbiyah dalam bentuk apapun. Salafush shalih tidak membangun wala’ dan bara’ kecuali di atas Islam. Mereka tidak menjadikan ta’ashub (fanatik) kepada seseorang atau kelompok, mereka tidak menjadikan suri teladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Saya (penulis) menyerukan, Wahai kaum muslimin dimanapun berada, kalau kita mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai agama yang barokah dan mulia ini, mari kita tinggalkan hizbiyah dengan segala macam bentuknya, apakah itu hizbiyah kesukuan, hizbiyah kebangsaan, hizbiyah peradaban nenek moyang, hizbiyah kepartaian meskipun  berlabel Islam dan hizbiyah-hizbiyah jahiliyah lainnya. Tengoklah kebelakang dari mulai lahirnya partai-partai Islam sampai sekarang ini adakah hasil yang didapat, kecuali hanya menguntungkan segelintir da’i-da’i yang menduduki kursi jabatan dan kekuasaan, merekalah ulama-ulama dunia yang dikabarkan Rasulullah untuk kita menjauhinya . Akhir kata kami mengajak segenap kaum muslimin agar mau  menuntut ilmu-ilmu syar’i, karena dengannyalah kemuliaan dan kejayaan Islam bisa diraih dan menjadi kuat sehingga di takuti oleh orang-orang kafir. Wallahua’lam bisshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: